ramadhanpohan

Font Size

Screen

Profile

Layout

Direction

Menu Style

Cpanel

DPR

  • PDF

Kalau dipikir-pikir, kurang apa lagi. Inilah puncak tertinggi persentase level pendidikan tertinggi dan terbaik dalam sejarah parlemen. Tetapi, peningkatan kualitas dan kuantitas anggota Dewan di bidang pendidikan tersebut, lagi-lagi, tidak memberikan efek perbaikan kualitas DPR. Nyata sekali, itu sama sekali tidak menciptakan efek kepuasan rakyat. Duh! Fungsi politik keteteran, fungsi keterwakilan masih memble. Lalu, apa lagi? Masih adakah optimisme tersisa di balik catatan buruk yang diterakan terhadap parlemen kita sekarang? Nah, kalau sudah begini, siapa bertanggung jawab? Lalu, jalan keluar apa yang diperlukan? Bayangkan. Masih menurut survei yang dilakukan surat kabar Kompas di atas, sejumlah 76,1 persen responden menyatakan belum terwakili oleh para anggota DPR sekarang. Hanya 20,8 persen saja yang mengatakan sudah terwakili. Lihat, betapa jomplangnya, perbandingan tingkat perasan diwakili dan tidak terwakilinya. Mayoritas publik kecewanya sudah mencapai level tinggi seperti itu. Yang lebih menarik lagi, terungkap dari jajak tersebut, tidak satu pun parpol atau fraksi yang berhasil memuaskan harapan rakyat dalam konteks peran pengusutan Bank Century. Angka kepuasan rakyat berada di bawah level 50 persen, yang tertuju utuh pada semua fraksi parpol. Tak ada satupun yang menembus angka di atas batas minimal. Senada dengan itu, sejumlah 63,4 persen responden menyatakan tidak puas terhadap kinerja Pansus DPR dalam mengungkapkan kasus Century. Hanya 32% saja publik yang merasa terpuaskan dengan penampilan para anggota Dewan yang membeber dan mengungkap kasus Bank Century. Sebagaimana rakyat, Presiden SBY sendiri jauh-jauh hari memberikan dukungan politis supaya parlemen bisa membedah dan membukakan tabir Century ini menjadi terang-benderang. Tetapi, semua harapan itu ternyata tak cukup mengangkat spirit dan selanjutnya kinerja DPR di mata rakyat. Padahal, ada dua TV nasional yang terus-menerus menayangkan LIVE setiap rapat Pansus. Tetapi menurut banyak komentar kepada penulis, alih-alih mengetahui kehebatan, kepedulian, dan kapasitas terbaik DPR, publik malah menyaksikan kelemahan dan keawaman para anggota Pansus. Teknik bertanya mereka dipersoalkan. Isi pertanyaan dan bagaimana para anggota Pansus bertanya-jawab atau mengorek keterangan dari Boediono, Sri Mulyani, Marsillam Simanjuntak, Aulia Pohan, dan lain-lain malah menimbulkan antipati publik pada beberapa anggota Pansus. Beberapa kalangan pun berani mengatakan, tampilan para anggota Dewan di atas memalukan. Sidang Pansus jadi dagelan politik, di mana sebagian anggotanya justru memaksakan kesimpulan sendiri dan bahkan sepertinya sudah punya kesimpulan sebelum pembahasan dan tanya-jawab dilakukan. Apakah ini yang membuat publik sebal dan mengungkapkannya lewat jajak pendapat?
Jurnal Nasional, 26 Jan 2010

 


Last Updated on Thursday, 05 May 2011 20:09

You are here: