ramadhanpohan

Font Size

Screen

Profile

Layout

Direction

Menu Style

Cpanel

Sentimen

  • PDF



Memang manusiawi sifat suka atau tidak suka itu. Orang kadang-kadang menyukai atau tidak menyukai sesuatu itu semata-mata karena faktor like and dislike: suka atau tidak suka. Sebut saja itu soal sentimen. Menurut kamus, KBBI, sentimen adalah pendapat atau pandangan yang didasarkan pada perasaan yang berlebih-lebihan terhadap sesuatu, yang bertentangan dengan pertimbangan pikiran. Sentimern bisa juga berarti perasaan atau emosi yang berlebihan. Perasaan dan sentimental bukan berarti tidak perlu. Tetap perlu. Persoalannya cuma sederhana, jangan sampai itu berlebihan. Bukankah segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik?

Coba saja tengok sepercik fenomena Pansus Century. Ada anggota-anggotanya yang belum-belum sudah bulat pasang target menjungkalkan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Atau ada yang bermimpi ingin menjatuhkan Wapres Boediono. Termasuk halusinasi sekira belasan orang yang memosisikan diri sendiri sebagai elite yang bertekad menggantikan Presiden SBY. Seakan-akan yakin presiden yang sah harus diganti dengan orang lain sesuai dengan skenario dan halusinasinya.

Tidak lucu memang. Begitu antusiasnya mereka mau menjatuhkan Sri Mulyani, kendati tidak ada alasan kuat untuk mengganti Sri Mulyani yang di mancanegara kerap mendapat pengakuan. Termasuk apresiasi dan penghargaannya sebagai menteri keuangan terbaik. Persoalannya hanya karena mereka tidak senang Sri Mulyani. Pribadi sekali memang, tanpa alasan yang jelas. Tidak suka Menkeu karena menterinya Sri Mulyani. Bukan karena kompetensi, kapasitas dan integritasnya yang jadi ukuran, tetapi faktor tak senang karena menterinya bernama Sri Mulyani.

Atau boleh jadi itu sesungguhnya akumulasi dari kekecewaan semata, misalnya karena tidak senang Sri Mulyani sosok keras yang tak bisa diatur seenaknya. Karena dianggap tak bisa didikte, termasuk tak bisa di-entertain, akhirnya dimusuhi. Itulah sebabnya, seorang pakar yang dikenal kritis, independen dan tidak bisa di-stel masygul kok Sri Mulyani diperlakukan tak adil.

Begitu pula terhadap Boediono. Barangkali karena latarbelakangnya yang non parpol maka sebagian politisi merasa cemburu, iri dan sakit hati. Kok Boediono yang tidak berbekal politik massa, dan sepertinya kurang berkeringat dalam politik, justru jadi nomor dua terkuat di Republik ini. Boleh jadi ada yang tengah merancang untuk menggantikan Boediono dengan figurnya sendiri atau sosok lain yang sesuai dengan ambisi sendiri. Maklum, Boediono termasuk sosok berintegritas dan tak mudah diatur-atur oleh siapapun yang berpikiran buruk untuk negeri ini.

Jurnal Nasional, 23 Jan 2009. <JL>

 

You are here: