Benar politik adalah soal merebut kekuasaan, mempertahankan kekuasaan, memperbesar dan memperkecil kekuasaan, dan sebagainya. Tetapi itu tidak berarti semua dijalankan secara serampangan. Bukan pula menafikan nilai-nilai, norma, etika, dan kepantasan. Justru kekuasaan itu harus dipandu secara benar sehingga pada akhirnya memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negeri.
Menurut KBBI, elegan berarti elok; rapi; anggun; lemah gemulai; dan luwes. Dengan demikian, politik elegan adalah politik yang enak dilihat. Yakni ketika menyaksikan pergulatan politik yang ada, penonton dan publik disajikan "tontonan" indah, menarik. Publik juga tercerahkan karena mendapatkan informasi, pengetahuan, pemahaman baru, penting dari para politikus tersebut.
Politik yang elegan adalah yang tahu fatsun dan tata cara berpolitik yang benar. Yakni ketika bertarung dalam pemilu, pileg dan pilpres, semua taat aturan. Mereka yang menang silakan melaksanakan program yang dicanangkan selama kampanye. Mereka yang kalah, seharusnya berjiwa besar menerima kekalahan. Selain itu juga memberi kesempatan pada pihak yang menang, untuk maju dan laksanakan program. Ada juga kesepakatan, yang tidak harus selalu tertulis, bahwa kontes politik selanjutnya adalah pemilu mendatang. Jadi, pascapemilu, yang ada adalah kerja, kerja, dan kerja.
Momen pascapemilu ini bukan berarti tidak boleh ada kritik. Bukan, bukan itu. Kritik harus tetap ada, sesuai dengan peran dan fungsi lembaga atau institusi terkait. Dalam konteks parlemen, pengawasan terhadap eksekutif, tak boleh terhenti. Setajam apa pun kritik adalah sah dan tidak ada problem sama sekali.
Yang tidak elegan adalah ketika kritik dibelokkan fungsinya menjadi jalan menuju pencopotan menteri atau pembantu presiden. Bahkan tidak elegan pula ketika setiap persoalan yang terjadi di departemen tertentu maka presiden harus turun tangan dan ambil-alih persoalan dan pertanggungjawaban.
Tetapi, begitulah. Ada saja politisi atau orang yang ingin memegang jabatan tertentu secara tidak wajar. Misalnya, lewat intrik dan cara-cara barbar dan jauh dari etika. Ada pula yang bermimpi seseorang, apakah dirinya atau diri orang lain, menjadi wapres atau presiden tanpa melalui pemilu. Melainkan melalui mekanisme politik apa saja, termasuk cara-cara yang tidak etis dan tak pantas. Dalam benak mereka, yang penting target politik tercapai.
Mereka yang berpolitik tidak elegan ini sesungguhnya tidak percaya demokrasi. Mereka atau pihak yang diusungnya diinginkan menguasai sirkulasi elite tanpa harus lelah dengan proses politik demokrasi, pemilu langsung.
Jurnal Nasional, 21 Jan 2010. <JL>
Elegan
Last Updated on Thursday, 05 May 2011 20:09


