Begitu pula elite-elite lain yang menginginkan Boediono, yang kala itu Gubernur BI, nonaktif dari jabatan Wapres yang diemban sekarang. Sama seperti Sri Mulyani di atas, sebagian elite juga berharap Boediono meletakkan jabatannya. Kedua tokoh ini benar-benar menjadi target politik, disingkirkan dari jabatan yang ada.
Tetapi yang menarik, apakah kaum elite ini tidak menyadari sesungguhnya gagasan mereka konyol. Dalam posisi mereka di parpol maupun parlemen, seyogianya sudah paham referensi tersahih di Konstitusi. Seorang rekan langsung menyambar dengan sinisme kemalasan para politisi membaca referensi. Sehingga, politisi, suka asal njemplak. Namun seorang rekan lain memotong, justru para elite dan politikus tersebut sadar gagasan mereka menyimpang dari Konstitusi. Para politisi itu tengah bermain di wilayah politik, di mana apa pun itu adalah niscaya.
Jadi, masih menurut penganut politik macam ini, tidak ada yang mustahil dalam politik. Sepanjang keputusan terakhir belum terjadi dan belum terlaksana, selalu terbuka peluang untuk bermanuver. Entah menggoyang situasi ataupun mengacaukannya supaya selaras dengan target politik yang disasar. Inilah yang sesungguhnya tengah berlangsung dalam gonjang-ganjing politik dan kasus Century.
Sedangkan demo-demo yang tuntutannya setali tiga uang dengan yang didesakkan para elite di atas, jadi pernak-pernik panggung politik. Kehadirannya bukan sebagai subyek utama, melainkan peran pembantu dalam teater yang tengah dipentaskan. Bukan berarti tidak penting. Penting sekali bahkan. Sebab, kehadiran dan aksi para aktivis tersebut, oleh para elite politik yang menarget Sri Mulyani dan Boediono, dimaknai sebagai suara rakyat. Jadi, jika para aktivis itu berteriak lantang dan mengusung spanduk besar dengan kalimat kasar dan jauh dari etika, itulah yang mau dikatakan rakyat. Seakan-akan itu opini publik yang sejatinya menguasai wacana politik berkembang sekarang.
Tetapi yang dikatakan mereka yang akar rumput justru mengagetkan saya. Mereka mengatakan Pansus Century yang ada sekarang sudah keluar jalur. Dari 30 anggota DPR di Pansus tersebut, sebagian sudah menyimpang dari makna Pansus. Jadi bukan lagi untuk membuka tabir gelap kasus Century, memastikan benar-tidaknya dulu berdampak sistemik serta mengetahui aliran dana. Orang-orang yang bukan elite politik ini sama sekali tidak melihat jalannya pansus ke situ. Sebaliknya wong cilik ini malah menuding jangan-jangan para politisi yang galak itu, baik dari oposisi dan koalisi, memang menarget orang per-orang. Artinya bukan cuma melengserkan Sri Mulyani dan Boediono, tapi SBY sekaligus.
Pernyataan orang-orang bawah tersebut mungkin memang ada benarnya. Sebab ia selaras dengan statemen mereka yang di Pansus, baik yang berlatar koalisi maupun oposisi, yang terang-terangan menarget SBY. Juga, bukankah ada figur-figur tertentu yang ingin jadi Wapres tanpa lewat pemilu. Juga yang sekalian mau jadi Presiden. Uppps!
Jurnal Nasional, 19 Jan 2010. <JL>


